Pengalaman Pertama Bertemu Dengan Pocong

Pengalaman Pertama Bertemu pocong

Pengalaman Pertama Bertemu Dengan Pocong

              Sore itu aku dan teman temanku sedang bersantai diwarung dekat rumah, suasana sore itu sangat damai dan menenangkan sebelum semuanya itu terjadi, yaitu salah satu temanku ada yang mengeluh perutnya sakit. “Aduh bro wetengku loro” ujar temanku yang bernama Bayek, yang kalau diartikan ke Bahasa indoneisa yaitu “aduh perutku sakit”. Bayek adalah salah satu pentolan di desaku. Tapi sayangnya teman temanku tidak ada satupun yang menggubrisnya, mereka pada asik sendiri dengan cerita yang mereka lontarkan dan sesekali asik dengan gadgetnya masing masing, malang sekali nasib si Bayek ini.

Seiring berjalannya waktu, suara adzan maghrib mulai berkumandang tetapi herannya tak ada satupun dari kami yang mau untuk menunaikan sholat maghrib karena kami semua agamanya bukanlah islam melainkan agama kami adalah katolik, jadi tak satupun dari kami yang menunaikan ibadah sholat maghrib.

Tak terasa sudah jam Sembilan malam kami terlalu asik untuk menceritakan atau bertukar pengalaman pribadi kami yang bermanfaat maupun tidak bermanfaat, sesekali kami menceritakan hal hal lucu dan juga menceritakan sepak terjang dunia perpolitikan Indonesia, padahal tak satupun dari kami yang paham tentang politik. Makin malam perbincangan kami semakin berat, bahkan kami sempat menceritakan hukum kuantum alam, karena efek menonton Interstellar dan juga memperbincangkan tentang konspirasi keluarga rothscild yang katanya menguasai keuangan dunia.

Semakin malam, Bayek sudah tak kuasa menahan sakit perutnya yang terus menggebu gebu ingin mengeluarkan isi perut yang overload, tak tahan menahan sakit perutnya lantas Bayek seketika menyaut pembicaraan kami “Ayo to bro terke ngising neng kali” yang artinya “Ayo bro anterin aku buang air besar dikali” ujar Bayek dengan nada yang tinggi seperti ancaman agar kami menuruti perintah bayek. Dengan hati yang berat dan berlandaskan takut karena dia adalah pentolan didesa kami, akhirnya kami menuruti perintah Bayek untuk mengantarkan Bayek buang air besar di kali atau sungai yang terletak disebelah barat desa kami. Disaat itu aku sempat berfikir “Kenapa kok tidak buang air di rumah saja, kan rumahnya juga deket”, tetapi kulupakan saja, karena kalau aku menyuarakan pendapatku itu bisa menimbulkan konflik dengan pentolan kami yaitu Bayek.

Langkah demi langkah kita menuju ke tempat pembuangan hajat yang popular di tempat kami yaitu di sungai (Tolong ini jangan ditiru).angin sepoy sepoy dan suara burung gagak mengiringi langkah kami menuju sungai itu, suasana mencekam semakin lama semakin menjadi jadi, sesekali aku melihat sekelebat bayangan hitam didepanku, tetapi saat itu aku pura pura tidak tau dan tenang agar suasana tetap kondusif dan agar temanku tidak merasa takut saat pergi menuju sungai yang melewati jalan yang sepi dengan minimnya pencahayaan.

Tak lama kemudian kami sudah samapi didestinasi kami untuk mengantar Bayek buang air besar. Perlahan lahan Bayek mulai menurunkan celananya dan siap untuk mengeluarkan hajat yang telah lama ia simpan didalam perut selama berhari hari, sesekali Bayek mengucap kalimat lega. Kami berempat yang menemani Bayek mulai merinding yang disertai dengan hembusan angina sepoy sepoy, dan saat itulah aku iseng iseng melihat suasana sekitar dan tiba tiba akupun mengumpat dalam hati “Wanjirrr, Apaan tuh?” ucap hati kecilku atau yang bisa disebut dengan membatin, saat ku melihat makhluk itu, aku pikir hanyalah karung biasa yang berwarna putih yang digantungkan pada pohon pisang. Semakin lama makhluk itu semakin jelas menampakan wujudnya, dan tiba tiba badanku bergetar hebat atau merinding yang tiada ampun, tetapi saat itu aku mencoba untuk menenangkan diri dan tetap berfikir positif kalo itu hanyalah karung belaka yang digantungkan dipohon pisang. Tetapi aku juga masih ragu, karena bentuk dari karung itu panjang seperti bentuk manusia.

Semakin lama makhluk itu mulai tak malu malu untuk menampakan wajahnya, dan disaat itulah aku tersadar bahwa yang aku lihat itu ternyata Pocong dan saat itulah aku teringat pada cerita pocong ririn yang sempat aku baca beberapa waktu lalu yang membuat aku semakin merinding. Badanku mulai tak terkendali ingin meronta dan berlari sekencang kencangnya, tetapi aku masih berfikir kalo masih ada tiga temanku yang menemani BAB Bayek, dan juga kalau aku berlari pasti tiga temanku ini juga ikutan berlari dan aku bisa mampus dipukulin sama Bayek karena ninggalin Bayek, karena kami berempat memang penakut semua. Dan saat itu aku hanya bisa berdiam saja dan mengalihkan pandanganku ke yang lain saja, seperti melihat Bayek buang air saja akan lebih baik.

Dan seketika salah satu dari kami berempat ada yang melihatnya juga, sebut saja Fandi. Dia pertama tama hanya bertanya sama aku “Red kui opo e putih putih” artinya “Red itu apa putih putih” ujar Fandi dengan nada yang bergetar menandakan tubuh Fandi yang bergetar karena merasa merinding. Dan ku jawab saja “Embuh kui aku ra dong” artinya “Enggak tau tu aku ga ngerti”, dan disaat itu tiba tiba angin bertiup agak kencang dan tiba tiba Bayek bergumam “Biasane nek ono angin ngeneki ono demit neng sekitar kene” yang artinya “Biasanya kalau ada angin kayak gini ada hantu disekitar kita”. Dan saat itulah Fandi langsung spontan berteriak “WOI POCONG!!!” dan Fandi langsung menarik bajuku agar lekas berlari meninggalkan Bayek yang tengah asik lagi BAB, dan akhirnya aku berlari karena aku sudah tak kuasa menahan rasa takut yang kualami. Dan akhirnya kami berempat berlari kocar kacir meninggalkan Bayek. Aku pun sudah tak habis pikir lagi kok bisa aku sama temanku melihat penampakan seperti itu, seperti layaknya sinetron hantu jadi pocong saja. Dan akhirnya Bayek pun dengan terpaksa menyudahi aktifitas BABnya dan memutuskan untuk berlari juga dan mengumpatkan kata kata kasar ke kami.

Sampai ditempat semula tongkrongan kami, aku sempat berfikir “Apakah gara gara tadi aku habis iseng iseng membaca artikel Book Of Solomon”, Book Solomon yang aku maksud adalah buku tentang pemujaan setan, atau yang disebut dengan “The Lesser Key of Solomon!”, tapi semua itu tidak ada yang tau, karena yang tau akan semua ini hanyalah Tuhan semata. Dan akhirnya kami memutuskan untuk pulang kerumah masing masing dengan rasa cemas dan takut membelenggu dipikiran kami.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: