Kitty (Horror Story)

PetSematary-Screengrab2.png.653x0_q80_crop-smart

Story by : Gracella Grace

Setiap kesuksesan yang kita dapat, pasti ada sesuatu yang harus kita korbankan. Itu sudah mutlak terjadi. Aku mengerti, maka saat Millo menjadi yang dikorbankan atas kesuksesan 2 juta keping laguku yang terjual di pasaran, aku hanya tersenyum. Meski rasa rindu menyelimuti hati, namun itu pantas menurutku.

Aku seorang pria yang bekerja didunia musik. Pekerjaanku adalah membuat sebuah lagu. Tidak ada genre aku khususkan dalam ciptaanku, seadanya ide aku pun menulisnya. Namun lagu ciptaanku yang terakhir tidak kusangka dapat meledak di pasaran. Begitu banyak peminatnya. Apalagi ketika lagu buatanku dijadikan lagu anak-anak nasional, tak bisa aku gambarkan betapa bangganya aku.

Millo, sang inspirasiku. Kucing kesayanganku sekaligus teman yang berjasa atas lahirnya lagu ini. Aku sangat berterima kasih padanya. Masih teringat saat ia mengeong padaku sore itu. Hari di mana aku berada di puncak tekanan pekerjaan. Sudah 3 tahun aku hanya mengcover lagu lama. Tidak ada lagu baru. Dan dia mulai menghabiskan stok kesabaranku.

“Millo, pergilah.” usirku sambil mengangkatnya dan menaruhnya di bawah kasur. Ia kembali melompat ke atas dan mulai menaiki perutku. Kali ini entah darimana api itu berasal, kemarahanku mulai tersulut.

“MILLO!!! PERGI!!!”

Aku membentak dan menendangnya dengan keras. Tubuh gemuk Millo membentur pinggiran meja membuatnya lumpuh sementara di atas lantai. Aku tak perduli dan segera beranjak menuju Millo yang tengah kesakitan.

Ku cengkram kasar perut gemuk Millo dan ku lempar ke meja komputer kamar. Ia sedikit memberontak yang membuatku makin emosi.

“DIAM MILLO!!!”

Ku raih sebuah cutter besar di tumpukan kertas yang berserakan di sana. Aku makin mencengkeram tubuh gemuk Millo, dan semua terjadi begitu saja. Aku membelah tubuhnya.
Tubuh Millo terbagi menjadi tiga bagian. Kepala, perut, dan kaki tangannya. Emosiku makin menggairah saat darah hangat Millo menetes ke tanganku.

Dengan hati-hati ku angkat kepala putus Millo dari atas meja. Aku membuka kantong plastik yang ada di tanganku dan hendak memasukkannya ke sana. Beberapa detik aku memandang wajah kucingku itu. Ia masih belum sepenuhnya mati ternyata. Jadi benar adanya jika kucing itu memiliki sembilan nyawa. Buktinya ia masih sanggup menggerakkan rahangnya seperti hendak menggeong. Namun itu tidak bertahan lama. Aku segera melemparkan kepala kucing itu ke dalam kantong plastik. Sungguh manis rupanya. Ia tertidur pulas. Tertidur untuk selamanya.

Ini bagian yang menjijikkan bagiku, aku harus membersihkan meja bukan hanya dari darah dan bulu Millo saja, tetapi dari isi perutnya yang bercecer juga. Ususnya kosong, tidak ada sisa makanan di sana. Mungkin itu sebabnya Millo mengangguku. Seketika rasa bersalah mencumbui perasaanku. Tapi semuanya terlambat. Aku memutilasi kucingku yang tengah kelaparan.

Kucingku belang tiga
Sungguh manis rupanya
Meong meong bunyinya
Tanda lapar perutnya

Dan lirik itupun tercipta begitu saja. Dengan nada dan musik sederhana sebagai penggiringnya. Mudah diingat dan anak-anak suka menjadi penyebab suksesnya lagu ini. Namun meskipun begitu, aku tidak pernah lupa siapa yang paling berjasa atas mahakarya ini. Yaitu kucingku, Millo.

-Tamat-

tag: cerita horror, cerita horor

img source : https://www.mnn.com/lifestyle/arts-culture/stories/9-creepy-cat-movies

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: